Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua

Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua

Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua – Seriring bertambahnya usia, kita akan dihadapkan dengan permasalahan yang makin kompleks dan banyak tanggung jawab yang kita pikul, misalnya punya tanggungan keluarga yang harus dinafkahi, berseteru dengan rekan kerja, banyak tuntutan untuk menjadi A, B, C, dan seterusnya. Inilah yang sering menjadikan kita kehilangan motivasi dalam menjalankan hidup.

Saat kita berada di titik bingung mau ngapain, apa aku nyerah aja atau aku ngerasa orang lain nggak ada yang peduli denganku, itu berarti kita belum mengenal diri kita sendiri. Kita hanya sibuk mendengar apa kata orang dan menjadikan penilaian seseorang sebagai patokan kesuksesan.

Sebenarnya, kita juga perlu memahami apa yang sebenarnya kita inginkan dan apa hal yang paling kita benci. Bertanya hal sederhana pada diri sendiri itu penting. Tidak hanya orang lain saja yang perlu kita pahami, tapi diri kita juga. Jadi, sangat penting berkenalan dengan diri sendiri. Untuk lebih lengkapnya, yuk, kita bahas satu per satu cara lebih dekat dengan diri sendiri!

 

 

1. Berbicara dengan diri sendiri

Berbicara dengan diri sendiri sama dengan mendengar apa yang sedang kita rasakan, baik perasaan marah, kecewa, bahagia, ataupun yang lainnya. Semakin sering kita mendengarkan isi hati kita, secara nggak sadar kita mulai mengenal diri kita seutuhnya.

Dengan begitu, kita menjadi tau pola-pola penyebab dari tingkah laku kita. Misalnya, kita sering merasa sedih tentang AB, AC, dan AD, bisa disimpulkan kalo penyebab rasa sedih tersebut adalah A.

Berbicara dengan diri sendiri bukan berarti kita menutup diri untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun, kita menyediakan waktu untuk mendengarkan isi hati diri sendiri.

Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua2. Berdamai dengan keadaan

Banyak hal yang sudah kita lewati di masa lalu, yang mana setiap hal memiliki kesan yang berbeda-beda. Jika itu pengalaman yang indah, mungkin kita akan lebih mudah menerimanya, bahkan akan selalu teringat dalam memori. Namun, bagaimana dengan pengalaman yang buruk? Apakah kita harus melupakaannya? Atau justru menyalahkan diri sendiri atas pengalaman yang sudah terjadi?

Pengalaman yang kita miliki di masa lalu itu bagian Data Sdy dari cerita hidup kita dan nggak akan bisa dihapus dari ingatan. Semakin kita berusaha melupakan hal yang menyakitkan, kemungkinan besar kita akan mengalami hal menyakitkan untuk kedua kalinya.

Ada sebuah analogi tentang berdamai dengan keadaan. Ketika kita terjatuh, lalu ada bagian tubuh yang terluka, mau nggak mau kita harus menahan sakit saat luka tersebut ditetesi dengan obat merah. Namun, apa yang terjadi? Luka yang tadinya berdarah, lama kelamaan akan sembuh. Berbeda ketika kita menolak untuk merasakan sakit akibat luka yang ditetesi obat merah dan memilih menutup luka tersebut, bukan malah sembuh, bisa-bisa malah terjadi infeksi.

Dengan berdamai dengan keadaan, berarti kita menerima apapun yang sudah terjadi dan fokus dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Secara nggak sadar, akan tumbuh motivasi untuk terus memperbaiki kualitas diri.

Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua

Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua3. Orang lain bukanlah pembanding

Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam takdir. Tentunya setiap manusia memiliki alur yang berbeda pula. Namun, kenapa kita sering berusaha meraih apa yang kita inginkan dengan cara orang lain? Kesuksesan seseorang itu punya caranya masing-masing, nggak selalu sama. Orang lain yang sukses melalui bidang bisnis, bukan berarti kita harus sukses di bidang tersebut. Bisa saja kita sukses di bidang teknik atau bidang-bidang lainnya.

Saat orang lain sukses di usia kita, sedangkan kita masih dalam tahapan mencapai, maka biarkan saja. Kita mungkin bisa menyontoh cara mereka meraih kesuksesan, tapi kita nggak bisa menyontoh takdir mereka. Semua punya timing-nya masing-masing. Nggak bisa kita percepat ataupun perlambat. Kalo kita fokus pada kesuksesan orang lain, ujung-ujungnya kita akan merasa gagal dan menyerah.

Menyamakan kapasitas kita dengan orang lain hanya akan memperburuk kualitas kita karena memaksakan hal yang nggak sesuai dengan yang kita miliki. Versi diri kita yang dulu adalah pembanding yang tepat untuk versi kita saat ini. Dari situ kita akan mengetahui progres apa yang sudah dicapai dan hal apa yang perlu ditingkatkan lagi.

Orang lain bukanlah pembanding

4. Ciptakan trik sendiri, bukan memaksakan

Dalam setiap cerita di hidup kita, kita lah yang menjadi pemeran utama dan pemegang setiap keputusan. Sedangkan, orang lain hanyalah pemeran pendukung. Makanya, jangan biarkan kebahagiaan dirimu dikendalikan orang lain.

Saat kita mulai dihadapkan dengan sebuah masalah, kita lah yang lebih tau apa yang kita butuhkan saat menghadapinya. Bersikap tenang dalam menghadapi rintangan merupakan awal dari sebuah solusi.

Sering kali kita terpaksa mengikuti cara orang lain dalam mengatasi permasalahan kita. Padahal, sebenarnya cara tersebut nggak sesuai dengan karakter permasalahan kita. Misalnya, kita dituntut untuk menguasai satu bidang keilmuan. Di waktu yang bersamaan, kita melihat orang lain yang sukses dalam bidang tadi dengan cara A, akhirnya kita meniru dengan cara tersebut meskipun itu berlawanan dengan karakter kita. Alhasil, kita nggak berhasil.

Coba ciptakan trik sendiri melalui pendekatan pada diri sendiri untuk menemukan trik yang sesuai demi mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

Kehilangan Motivasi Saat Usia Semakin Tua

5. Memaksimalkan, bukan mencari kelemahan

Melihat satu kelemahan akan merusak seribu kelebihan. Itulah yang sering kita alami, bukan? Kita lebih terpaku dan merenungi kelemahan tersebut dan mengabaikan kelebihan yang kita miliki daripada menerima kelemahan Data HK dan mengembangkan kelebihan tersebut.

Itulah yang menjadi sebab kita sering kehilangan motivasi. Banyaknya tekanan dari sekitar menjadikan kita memilih meratapi kelemahan kita, padahal banyak potensi yang kita miliki.

Dengan belajar memaksimalkan potensi diri itu sama dengan kita memperbaiki kelemahan kita dan motivasi hidup akan muncul dengan sendirinya.

Memaksimalkan, bukan mencari kelemahan
6. Santai saja, jangan terlalu keras pada diri sendiri

Demi mengejar eksistensi di hadapan orang lain, kita sering berlaku keras pada diri kita. Memaksakan porsi yang bisa membuat kita tersakiti. Ujung-ujungnya kita nggak dapat apa yang kita ekspektasikan.

Misalnya, kita terobsesi dengan tubuh langsing dan menarik. Akhirnya, kita memaksakan tubuh kita untuk diet ekstrim dan olahraga berat. Sedangkan, tubuh kita nggak sanggup dengan itu semua. Alhasil, kita drop dan jatuh sakit.

Untuk bisa mencapai suatu target hidup, kita juga harus mempertimbangkan kapasitas diri kita. Obsesi itu boleh, tapi realistis itu lebih penting. Diri kita juga perlu sesekali dikasihani, beri istirahat, dan lain-lain. Jangan sampai kita jahat dengan diri kita yang sudah berjuang keras untuk mencapai target tersebut.

Leave a Reply